Mukadimah : Lingkaran sebuah “Kesetaraan Jender”
Sekali lagi kebenaran pesan Rasulullah tentang pentingnya menjaga lidah terbukti. Gara-gara dapet PR dari Mbak Hanum soal Lomba Best Entry Juli 2006 yang diselenggarakan oleh Muslimbloggers dengan tema Lingkaran, jadi nanya ke sana-sini cari inspirasi yang enak untuk menerjemahkan kata lingkaran.
Cuma karena dua kata, "Kesetaraan Jender" yang diucapkan di hadapan si Ummi. Ujung-ujungnya jadi panjang. Mau ga mau jadi harus bikin penelitian kecil-kecilan soal kesetaraan jender. Mungkin ga seberat dhiya yang lagi bikin skripsi yang puyeng ga beres-beres, tapi yang ini ‘aseli’ bikin puyeng juga.
Memang kalo ngomongin masalah kesetaraan jender bakalan banyak kontroversi. Terutama kalo yang bicara kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan. Disatu sisi perempuan memang tidak bisa meninggalkan kodratnya sebagai satu pihak yang memang punya beban berat di rumah. Namun disisi lain keinginannya untuk juga berkiprah di luar rumah juga sangat besar yang tidak mau dibedakan dengan laki-laki.
Trus lingkarannya dimana?! 
Mang agak susah sih jelasinnya. Gini deh, kalo kita perhatiin, perempuan sekarang berusaha dan terus berjuang untuk menyamakan posisi dengan laki-laki disemua aspek. Dari mulai ilmu pengetahuan, sosial politik, ekonomi dan budaya, malah sampe ke hankam.
Dalam hal kesamaan hak memperoleh ilmu pengetahuan, tidak diragukan lagi setiap orang memiliki hak yang sama apapun jendernya. Dari sisi pendidikan memang tidak terlihat banyak perbedaan, malah pada tingkat pendidikan tertentu justru kaum perempuan lah yang banyak memimpin [lihat : Pendidikan : Menuju "Kesetaraan Jender"].
Dalam hal kesamaan hak dalam strata sosial politik, juga tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tidak ada larangan wanita menjadi bu Rt, bu RW, bahkan sampe bu Lurah, bu Camat dst. Sampe-sampe untuk posisi perempuan di DPR/MPR aja harus minimal sekian persen [baca : Banyaknya Anggota DPR/MPR menurut jenis Kelamin]. Dan kalo ada partai yang tidak mengusung kandidat perempuan dalam caleg-nya pasti jadi issue yang menjatuhkan citra partai tersebut. Pokoknya yang ada bau sosial politik dah samar deh masalah ada larangan atau tidaknya, walaupun sebenarnya sudah banyak yang kelewat batas kalau kita lihat dari sisi Islam.
Dalam hal kesamaan hak dalam bidang ekonomi, bisnis, profesi dan yang berkaitan dengannya. Humm.. inilah yang banyak bikin kontroversi. Jadi sebuah lingkaran yang ujung-ujungnya perempuan tetap harus balik ke bagian bawah setelah berusaha menggapai perlahan untuk mencapai posisi atas dalam suatu lingkaran. Seperti sebuah roda yang berputar.
Memang secara umum sudah tidak ada lagi batasan perempuan mau punya profesi apa. Dari ibu rumah tangga sampai presiden. Mau kondektur bis sampai diva pop. Mungkin ini tidak menjadi masalah bagi yang memilih berprofesi full sebagai ibu rumah tangga. Namun bagi yang memiliki keinginan memiliki profesi tertentu ini sangat menghambat. Kinerja mereka menjadi tidak maksimal semenjak mereka menikah. Terkadang mereka malah menjadi setengah pengangguran dalam profesi tertentu, misalnya antara profesi di kantor dan di rumah [baca : Profesi : Menuju "Kesetaraan Jender"].
Nah masalah budaya juga termasuk masalah yang jadi ‘lingkaran setan’ buat para perempuan. Terutama dalam hal hijab. Perempuan menuntut kebebasan berekspresi dalam berpakaian, mau ketutup keq, mau kebuka keq, terserah. Sampai sampai mereka mengabaikan potensi kriminal akibat ekspresi yang mereka gembar-gemborkan. Belum masalah kebebasan mereka dalam merajut seni, dari mulai foto, filem, sampe lagu-lagu. Ga ada batasan baik syar’i maupun hukum pemerintah [baca : Budaya : Menuju "Kesetaraan Jender"]. Budaya memang bukan hanya pakaian dan hiburan tapi yang dua ini yang paling besar dalam mempengaruhi budaya.
Hankam juga sama. Cuma mungkin posisi perempuan dalam aspek ini lebih ‘nyadar’ diri. Tidak berdiri langsung di depan garis perang. Ya kalo jadi polwan, sipir atau tentara karir memang tetap harus ada.
Gitu deh hasil penelitiannya. Seperti halnya kata pengantar dalam sebuah skripsi seperti yang dibuat dhiya. Pasti ada kata-kata, "Terima kasih bu Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, undp, bps serta Penulis mengharapkan masukan yang membangun… dan bla.. bla.." Silahkan isi di kolom komentar atawa di milis juga ga papa.
1 Comment »
The URI to TrackBack this entry is: http://baiturrahmah.blogsome.com/2006/07/12/mukadimah-lingkaran-sebuah-kesetaraan-jender/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>











weh, pertama ya ….
aku juga makin puyeng stlh bacanya ….. tll byk parameter yang dipake
Comment by luthfi — 12 July 2006 @ 1:19 pm