up home page --> Add to Technorati favourites bottom

Dicabutnya Ilmu Vs Meringkas Kitab Ulama Terdahulu

Dear Friends, ada teman yang kirim artikel ini ke blogku. Isinya bagus, mayan buat introspeksi diri.

Aku telah bersedia menjadi orang yang “tidak normal” dengan meninggalkan berbagai kesenangan dunia, Aku telah mendedikasikan seluruh hidupku untuk mencari ilmu, Aku berjalan jauh ke arah barat lalu ke timur selanjutnya ke utara serta ke selatan, Aku telah berguru selama berpuluh-puluh tahun dari satu maha guru kemudian ke maha guru lainnya, Aku tidak tidur di siang hari dan juga sedikit tidur di malam hari, Aku telah membaca dan menelaah ribuan buku-buku yang telah ada sebelumku. SEHINGGA Aku bisa menulis banyak buku yang insya Allah dapat membantu generasi sesudahku dalam memahami Al-Qur’an, As-Sunnah, dan As-Sirah dengan baik.

Aku telah membaca sebuah riwayat dari Anas bin Malik, ia berkata, “Pada saat Rasulullah tiba di kota Madinah, Abu Thalhah memegang tangan saya dan membawa saya menghadap beliau. “Wahai Rasulullah,” kata Abu Thalhah, “Anas ini orang miskin, terimalah ia sebagai pelayan Anda.” Semenjak itu saya mengabdi kepada Nabi, baik di rumah maupun di perjalanan. Demi Allah, beliau belum pernah mengatai pekerjaan saya dengan ucapan “Kenapa kamu melakukan itu?” atau mengatai sesuatu yang tidak saya kerjakan dengan ucapan, “Kenapa kamu tidak melakukannya?” (HR. Bukhari, Muslim, dan Baihaqi). Namun mengapakah generasi sesudahku dengan ‘tenangnya’ mengoreksi hasil ‘pekerjaanku’ tanpa seizin dariku?

Wahai ulama terdahulu, aku terbuat dari api sedangkan engkau dari tanah, dan aku telah pula belajar di sekolah terkenal sehingga ilmuku tentu lebih baik dari ilmumu.

Tapi bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa, “Sebaik-baik umatku adalah yang hidup pada masa hidupku, kemudian generasi sesudahnya? (Dan masa hidupku hanya terpaut beberapa abad dari generasi Rasulullah).

Wahai ulama terdahulu, aku terbuat dari api sedangkan engkau terbuat dari tanah. Walaupun masa hidupku terpaut ribuan tahun dari masa Rasulullah, namun aku memiliki metode yang lebih baik dari metode milikmu.

Bukankah Allah SWT telah berfirman bahwa, “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya, melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (Raqib-Atid).” (QS. Qaaf: 18). Demikian juga Rasulullah telah mengingatkanku bahwa, “Barang siapa menceritakan suatu hadits (ucapan) yang ia sandarkan padaku, padahal dia tahu bahwa hadits itu bohong (bukan dariku), maka ia adalah salah seorang pembohong.” (HR. Muslim). Aku memang tidak terlepas dari kesalahan, namun sebagai seorang “Pewaris Nabi” tentu sudah seharusnya kesalahan-ku tidak begitu banyak. Tapi mengapa generasi sesudahku meringkas berjilid-jilid tulisanku sampai hanya menjadi satu jilid saja, tidakkah mereka takut akan kehilangan banyak hikmah dari ‘lisanku’?

Wahai ulama terdahulu, aku terbuat dari api sedangkan engkau terbuat dari tanah, dan aku sangat malas melihat tulisan berjilid-jilid yang penuh pengulangan disana-sini dan ada pula hadits-hadits yang menurut ilmuku itu dhaif, disamping itu generasiku juga tidak punya waktu untuk membaca bukumu yang tebal itu!

Sepengetahuan-ku bahasa arab adalah bahasa terlengkap dan terbaik di dunia ini, namun setelah buku-ku diterjemahkan ke dalam bahasa lain, Mengapakah isinya menjadi jauh lebih sedikit?

Wahai ulama terdahulu, aku terbuat dari api sedangkan engkau terbuat dari tanah, dan bahasaku lebih baik dari bahasamu.

Wahai generasi sesudahku, pernahkah engkau membayangkan atau memperkirakan terhadap dampak perbuatan yang telah engkau lakukan itu pada generasi 500 tahun dari masamu itu? Aku umpamakan di masaku aku membuat tulisan dalam 3 jilid buku, kemudian generasimu meringkasnya menjadi hanya 1 jilid buku saja, dan selanjutnya setiap generasi sesudahmu yang juga ‘merasa’ memiliki ini dan itu yang lebih baik dari generasi sebelumnya akan mengoreksi dan meringkasnya lagi dan seterusnya dan seterusnya…… mungkinkah buku-ku ini akan menjadi 1 (satu) lembar saja pada generasi 500 tahun dari masamu itu?

Wahai ulama terdahulu, aku terbuat dari api sedangkan engkau terbuat dari tanah, dan sesungguhnya engkau telah mengetahui tujuanku sebenarnya………… bahwa aku telah berjanji untuk sebanyak mungkin menyesatkan manusia……….. namun karena ilmuku sulit sekali “menyentuh” orang-orang sepertimu yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, maka jika memungkinkan, aku akan berusaha semampuku untuk menghilangkan semua tulisan- tulisanmu itu dari muka bumi.

Apakah engkau juga yang telah merubah dan menghapus dan mengacaukan Kitab Thaurat dan Kitab Injil?

Wahai ulama terdahulu, aku terbuat dari api sedangkan engkau terbuat dari tanah, dan sesungguhnya umat Islam itu sungguh beruntung karena Allah SWT langsung “turun tangan” sendiri untuk menjaga kitab-Nya (Al-Qur’an), tidak seperti kitab-kitab sebelumnya. Seandainya saja Allah SWT tidak menjaganya sendiri, tentunya aku akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan terhadap buku-bukumu dan terhadap kitab-kitab-Nya yang terdahulu.

Tidakkah akan lebih baik jika engkau menulis sendiri sebuah buku? Karena Rasulullah telah bersabda bahwa, “Barangsiapa yang mula pertama melakukan kebaikan dalam Islam, maka ia mandapat pahala kebaikan itu sendiri dan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mula pertama melakukan kejahatan dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan dosa orang yang meniru perbuatanmu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim).

Wahai ulama terdahulu, aku terbuat dari api sedangkan engkau terbuat dari tanah, dan aku menyukai kejahatan dan akan lebih menyukai lagi jika kejahatanku ini diikuti oleh lebih banyak orang.

Apakah “Aku lebih baik dari Engkau” adalah senjata pamungkasmu?

Wahai ulama terdahulu, aku terbuat dari api sedangkan engkau terbuat dari tanah, dan ‘itu’ dosa pertamaku, dan aku melakukannya langsung ‘dihadapan’ penciptaku, jadi tentunya itu merupakan senjata pamungkasku.

Sungguh benar apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir (QS 2:34). Qatadah mengatakan, musuh Allah, Iblis iri terhadap Adam AS atas kemuliaan yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Lalu iblis itu berkata, “AKU DICIPTAKAN DARI API SEDANG IA (ADAM) DICIPTAKAN DARI TANAH.”

Dan benar pula apa yang telah disabdakan Rasul-Nya (Muhammad SAW):

Dosa yang pertama kali terjadi adalah kesombongan musuh Allah, iblis, yang merasa enggan bersujud kepada Adam AS. Dalam hadits shahih telah ditegaskan:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meski hanya sebesar biji sawi.”



Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://baiturrahmah.blogsome.com/2006/07/19/dicabutnya-ilmu-vs-meringkas-kitab-ulama-terdahulu/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>