# Menyikapi Perbedaan Hari Idul Fitri
Dihampir setiap tahun, setiap memasuki akhir Ramadhan, akan kita dapati beberapa kesimpulan dan keputusan dari berbagai organisasi masyarakat tentang hari berakhirnya Ramadhan dan awal dari bulan Syawal.
Saking sudah biasanya, sampai-sampai masyarakat sudah terbiasa dengan masalah ini. Pada akhirnya masyarakat akan memilih mana yang menurut mereka benar.
Terdapat beberapa hal yang sebaiknya, kita, sebagai masyarakat umum mengetahui, yaitu :
Pertama, penentuan berakhirnya bulan Ramadhan dan masuknya bulan Syawal adalah dengan melihat hilal bulan Syawal. Ini didasari atas perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam,
“Artinya : Apabila kamu melihat hilal (Ramadlan) maka puasalah, dan apabila kamu melihat hilal (Syawal) maka berbukalah, tetapi jika awan menutup kalian, maka berpuasalah tiga puluh hari".[Dikeluarkan oleh Imam Muslim (3/124) dan beberapa hadits yang serupa]. Mengetahui lebih lanjut…
Kedua, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam tidak pernah mencontohkan akhirnya bulan Ramadhan dan masuknya bulan Syawal dengan menggunakan hisab atau hanya dengan melihat kalender.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam bersabda.
“Artinya : Janganlah kalian berpuasa sebelum kalian melihat hilal atau kalian sempurnakan (bulan Sya’ban menjadi 30 hari). Dan janganlah kalian berhenti berpuasa (Ramadhan) sebelum kalian melihat hilal atau kalian sempurnakan (bulan Ramadhan menjadi 30 hari)”. [Hadits Riwayat Abu Dawud dan An-Nasaa’i dengan sanad shahih].
Jika kita menentukan awal dan akhir Ramadhan dengan cara melihat hilal (bukan dengan cara hisab) berarti kita telah menempuh dan meniti jalan orang-orang yang dijamin masuk Surga dan dijamin mendapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Mengetahui lebih lanjut …
Ketiga, berdasarkan Fatawa Ramadhan 1/117 dari Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta, mengenai penetapan akhir dan awal suatu bulan merupakan prmasalahan yang masuk ke dalam wilayah ijtihad. Oleh karenanya, para ulama -baik yang terdahulu maupun yang sekarang- telah berselisih. Dan tidak mengapa, bagi penduduk negeri manapun, jika tidak melihat hilal pada malam ketiga puluh untuk mengambil hilal yang bukan mathla mereka, jika kiranya mereka benar-benar telah melihatnya.
Jika sesama mereka berselisih juga, maka hendaklah mereka mengambil keputusan pemerintah negaranya, jika seandainya pemerintah mereka Muslim. Karena, keputusannya dengan mengambil salah satu dari dua pendapat, akan mengangkat perselisihan. Dalam hal ini umat wajib mengamalkannya. Dan jika pemerintahannya tidak muslim, maka mereka mengambil pendapat Majlis Islamic Center yanga ada di Negara mereka, untuk menjaga persatuan dalam berpuasa Ramadhan dan shalat ‘Ied.
Keempat, jangan berpuasa selamat 30 hari berturut-turut setiap tahunnya tanpa nash yang shahih. Sebagaimana hadits-hadits diatas, seharusnyalah kita mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam dalam beribadah, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya”. [Al-Hasyr : 7]. Mengetahui lebih lanjut…
Semoga bermanfaat.
1 Comment »
The URI to TrackBack this entry is: http://baiturrahmah.blogsome.com/2006/10/22/191/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>











‘IDUL FITRI’
M Ihsan Dacholfany
Sidang Hari Raya ‘Idul Fitri yang berbahagia !
Pada hari yang sangat mulia ini tiada untaian kalimat yang lebih indah diucapkan selain untaian rasa tasyakur kita kepada Allah SWT. dengan ucapan :
“Segala puji bagi Allah yang membenarkan janji-Nya, yang menolong hamba-Nya ,yang mengasihi tentara-Nya, dan yang telah mengusir musuh-musuh-Nya dengan sendirian”.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah SWT.
Mari kita tingkatkan taqwa kita kepada Allah Jalla Jalaaluhu. Adalah sangat beruntung di hadapan Allah orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya. Semoga kita termasuk di antara mereka .Amin .
Taqwa itu ditandai dengan peningkatan ketaatan kepada Allah sebagai mana disinyalir dalam sabda Nabi yang sering kita dengar bahwa :
“Lebaran bukanlah milik orang-orang yang berpakaian baru tetapi adalah milik orang-orang yang bertambah taatnya terhadap Allah SWT”.
Oleh karena itu lebaran ini hakekatnya adalah milik orang-orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Kaum muslimin yang berbahagia !
Ketahuilah bahwa hari ini adalah hari yang penuh dengan kegembiraan, penuh dengan kebahagiaan, hari pembebasan dari api neraka, hari pemberian pahala, dan ini hari adalah hari yang penuh dengan keberkahan dan keagungan.
Orang-orang Islam keluar rumah untuk melaksanakan shalat ‘Id, meraka sambil berzikir mengingat Allah, bertakbir mengagungkan Allah,dan bertahmid memuji Allah. Dan pada pagi hari ini pula para malaikat turun ke bumi memohonkan ampunan bagi mereka semua, maka Allah pun mengampuni semua dosa dan kesalahan mereka semua yang mengharapkan ampunan Allah SWT tanpa kecuali.
.
Hari ini disebut juga yaitu hari pemberian hadiah atau penghargaan dari Allah SWT.karena sepulang dari tempat shalatnya , masing-masing akan membawa hadiah dari Allah yang berupa ampunan setelah mereka dinyatakan sebagai pemenang oleh Allah yang Maha Mulia. Orang-orang yang berbuat baik akan mendapati dalam buku catatan amalnya kemuliaan dan kemurahan, dan sebaliknya orang-orang yang berbuat dosa hanya akan mendapatkan kekecewaan dan penyesalan belaka.
Nabi bersabda: “Ketika umat Muhammad SAW. Melaksanakan puasa pada bulan Ramadlan dan keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat ‘Idul Fitri, maka Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: “Wahai para malaikat-Ku !, sesungguhnya para pekerja itu menuntut upahnya, dan para hamba-Ku yang melaksanakan puasa pada bulan Ramadlan dan keluar rumah untuk melaksanakan shalat ‘Idul Fitri, juga menuntut upah mereka, maka saksikanlah wahai para malaikat-Ku bahwa,Aku benar-benar telah mengampuni mereka. Lalu terdengan seruan :” Wahai umat Muhammad !, kembalilah ke rumahmu masing-masing , kini kejelekanmu benar-benar telah diganti dengan segala kebajikan karena anugrah Allah SWT.
Sidang hari Raya ‘Idul Fitri yang berbahagia !
Setelah sekian lama bangsa kita mengalami krisis, telah membuat roda perekonomian semakin tempuruk, kesejahteraan rakyat anjlok secara drastis hingga menyebabkan terjadinya berbagai kerawanan sosial, krisis moneter , krisis moral dan berbagai krisis lainnya. Krisis yang berkepanjangan ini sudah barang tentu akan membuat martabat manusia Indonesia jatuh ke titik terendah di mata dunia serta melemahkan ekonomi rakyat menengah ke bawah dan satu demi satu berbagai sektor industri akan terkikis habis, maka akibatnya bisa dibayangkan kalau sektor industri dan berbagai proyek yang padat karya mengalami stagnasi, yang mana itu adalah lapangan kerja para buruh, apa lagi yang bisa mereka buru.Akibat itu sekarang telah menjadi kenyataan dengan banyaknya karyawan yang telah di PHK dan banyaknya pengangguran yang mempertinggi angka rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan, sehingga jikalau mereka tidak kuat imannya, mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang kendati untuk itu mereka harus melanggar hukum.
Yang kita khawatirkan pada saat ini, kalau krisis terus berkelanjutan, maka pemerintah akan kewalahan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pokok yang harganya kini semakin hari terus membubung tinggi. Oleh karena itu , saat ini keprihatinan bersama sangat diperlukan baik dari golongan atas hingga ke bawah, maupun golongan bawah hingga ke atas, sebab bangsa kita kini pada dasarnya telah menjadi kuli atau buruh dan kehidupan kita jatuh dalam penderitaan seperti pada zaman penjajahan dahulu, akibat krisis moneter di era globalisasi, yang diikuti oleh berbagai krisis lainnya.
Dengan adanya sifat agresif, sifat tamak dan tidak adil yang dimiliki manusia dalam situasi yang tidak menentu seperti sekarang ini , terjadi bahwa di antara anggauta masyarakat bangsa kita ini terdapat sekelompok orang yang begitu saja mengambil hak milik atau hasil usaha orang lain secara tidak sah, maka wajarlah kalau mereka yang merasa akan dirugikan berusaha menghalangi tindakan tersebut. Hal itu akan menimbulkan sengketa yang dapat menjurus pada permusuhan, bentrokan berdarah bahkan pembunuhan sehingga dapat berakibat musnahnya manusia, sedangkan Allah yang menciptakannya menghendaki untuk melestarikan keberadaannya di muka bumi ini.
Sidang Hari Raya ‘Idul Fitri yang di muliakan Allah !
Pada hari yang fitri ini khatib mengajak, marilah kita berusaha mengingat dan mengenali diri kita masing-masing sebagai manusia. Seandainya semua manusia mampu mengenali dirinya niscaya kehidupan manusia di muka bumi ini akan berjalan sebagai mana layaknya.Di samping itu, karena manusia mampu berpikir, merenung dan menghayati kebenaran dirinya sebagai makhluk yang bernama manusia, niscaya dia mengetahui akan hak dan kewajibannya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui yang bermanfaat dan yang madlarat serta mengetahui mana perintanh yang harus dilaksanakan dan larangan-larangan yang mesti ditinggalkan.
”Wahai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal. (QS. Al-Hujurat/49:13)
Dimaksudkan dengan pada ayat ini tidak sekedar saling mengenal dan memperkenalkan diri tetapi juga harus saling mengasihi, menyayangi, mencintai, menghormati dan menghargai kedudukan , harkat dan martabat orang lain, saling menolong untuk kebaikan dan kebenaran, tidak saling membunuh, menyakiti, dan melukai, tidak saling bermusuhan, merampas dan memperkosa hak-hak orang lain.
Dalam hal ini Nabi kita dengan tegas bersabda:
”Takutlah kamu akan buruk sangka, sesungguhnya buruk sangka itu itu adalah pembicaraan yang paling dusta. Janganlah kamu mendengar-dengarkan kabar dan mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kamu berlomba-lomba (dalam kemewahan dunia),janganlah saling mendengki, dan janganlah kamu saling membelakangi . Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagai mana Allah perintahkan kepadamu. Orang muslim itu bersaudara sesama muslim, ia tidak menganiaya saudaranya, tidak merendahkannya,dan tidak menghinanya.Taqwa itu ada di sini 2 x, Beliau sambil mengisyaratkan ke dadanya. Cukuplah merupakan suatu keburukan bagi seseorang yang telah menghina sesama saudara muslim, setiap muslim itu haram atas muslim lainnya akan darahnya, kehormatannya dan hartanya.(HR. Bukhari dan Muslim ).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud Nabi SAW. juga memperingatkan dengan sabdanya:
”Seorang mukmin tidak diperbolehkan mendiamkan sesama saudara muslim lebih dari tiga hari,apabila telah lewat tiga hari, maka hendaklah salah seorang di antara keduanya itu menemui dan mengucapkan salam kepada yang lain. Apabila yang lain itu mau menjawab salamnya, maka keduanya telah bersama-sama mendapatkan pahala; tetapi bila yang lain itu tidak mau membalas salamnya, maka berarti ia telah memborong dosanya. Dan orang yang mengucapkan salam lebih dulu itu tidak bisa dikatakan mendiamkannya”.(HR: Abu Daud).
Jika umat Islam khususnya yang ada di Indonesia benar-benar menjalankan ajaran tersebut, niscaya krisis moneter, krisis ekonomi, krisis kepercayaan dan berbagai krisis lainnya tidak perlu terjadi, karena setiap lapisan masyarakat dari kelas yang paling rendah hingga yang paling tinggi akan menjadi warga negara yang jujur, adil dan bijaksana, yang sudah barang tentu menciptakan nuansa kedamaian yang sangat kita dambakan.
Akan tetapi kenyataan berbicara lain, bertolak haluan, berbalik 180 0, umat Islam telah terkotak kotak di era Reformasi yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, umat Islam dalam menilai kebenaran hampir tidak lagi didasarkan kepada ajaran agama yang dianutnya, melainkan didasarkan kepada kelompoknya masing-masing. Sesuatu dianggap benar jika menguntungkan kelompoknya sendiri dan dianggap salah jika merugikannya, pada hal mereka satu akidah, satu agama , satu sumber hukum yang sama yaitu al-Qur’an al-Karim dan al-Hadits as-Syarif.
Kalau boleh saya bertanya, di mana letak ketinggian Islam sebagai mana yang disabdakan baginda Nabi SAW. :
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya”,
Jawabnya tentu terletak pada kualitas umat Islam itu sendiri dalam menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam, dan kuncinya adalah terletak pada persatuan dan kesatuan umat Islam.
Sahabat Umar bin Khatthab RA. Berkata :
”Tidak ada Islam tanpa adanya jama’ah/persatuan yang kuat, tidak ada jama’ah tanpa adanya pemimpin yang berwibawa, dan tidak ada pimpinan yang berwibawa tanpa adanya kepatuhan kepadanya”.
Sekarang umat Islam dari segi kuantitas sudah kalah dibanding umat lain di dunia ini, apalagi dari segi teknologi dan persenjataan cangggih .lalu dimana letak ketinggian Islam, apakah kita hanya menunggu turunnya mu’jizat dari langit tanpa kita berbuat sesuatu yang bisa mengangkat derajat dan ketinggian Islam ? .
Jikalau umat Islam benar-benar menghendaki ketinggian dan kejayaan Islam, maka camkanlah seruan sahabat nabi tersebut, karena setiap jamaah, pasti membutuhkan seorang pemimpin, tanpa adanya pemimpin pasti kekacauanlah yang terjadi, sehingga apa yang dihimbauan sahabat Umar RA.itu sangat sesuai benar dengan yang disabdakan Nabi SAW. Tersebut dalam kitab Nailul Authar jilid 9. Bab al-Imaarah hadits Nabi berikut ini:
“Dari Abdullah bin Amrin bahwasanya Nabi SAW. Bersabda: “Tidak halal bagi tiga orang yang berada di padang yang luas di muka bumi ini kecuali mereka mengangkat salah seorang dari mereka untuk menjadi pemimpin mereka”. (HR. Ahmad)
Dalam hadits ini jelas-jelas ditegaskan bahwa dalam jumlah tiga orang saja harus mengangkat seorang pemimpin , apalagi lebih dari tiga orang, pasti harus mengangkat seorang pemimpin. Hadits ini mengisyaratkan bahwa umat Islam harus mempunyai szeorang pemimpin agar persatuandan kesatuan umat Islam lebih kokoh ,rapi, tertib, dan lebih menampakkan syi’ar Islam di mata dunia.
Islam di Eropa (Spanyol) pernah jaya berabad-abad, namun sekarang tinggal kenangan belaka. Banyak masjid diubah menjadi gereja-gerja, Mengapa ?. Karena umat Islam di sana bercerai-berai , tidak bersatu lagi, saling berebut harta dan tahta, sehingga menjadi lemah dan tidak berdaya ketika menghadapi serangan dari luar. Mengapa tidak kita ambil pelajaran yang sangat berharga dari masa lalu ini ? Tidak mustahil Islam menjadi minoritas atau bahkan habis tinggal kenangan dari bumi Indonesia, jika umatnya selalu bertikai yang jelas-jelas akan melemahkan kekuatan mereka sendiri.
Dalam hidup berbangsa dan bernegara, kita pasti butuh seorang pemimpin dan harapan kita adalah pemimpin yang memiliki superioritas atau keunggulan dan kekuatan yang secara efektif mampu mengendalikan ketertiban negara dan melindunginya, baik terhadap gangguan dari dalam maupun ancaman dari luar, dan seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan dan kewibawaan yang memungkinkan bertindak sebagai penengah, penegak, dan sekaigus sebagai hakim yang adil dan bijaksana. Semoga pemimpin negara ini memenuhi harapan kita. Amin.
Demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama, kita pasti butuh seorang pemimpin baik formal maupun non formal, karena hal ini adalah ajaran agama Islam yang pasti benarnya dan akan berdampak positif bagi kita semua. Inilah ajaran agama yang kita anut. Bagaimana Islam akan jaya, jika kita sebagai umatnya menentang atau menyalahi ajaran yang mulia tersebut. Orang-orang yang mengaku sebagai umat Islam, namun senantiasa menyalahi menolak dan menentang ajaran Islam, maka mereka telah menghianati Allah SWT. dan Rasul-Nya SAW., dan berarti mereka tidak memegang amanat dengan baik, karena pada dasarnya ajaran agama itu adalah merupakan amanat Allah SWT. yang dengan congkaknya manusia menyanggupi untuk memikulnya. Allah SWT berfirman dalam surat 33( al-Ahzab) ayat 72 sebagai berikut:
kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikul-lah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dhalim dan amat bodoh.(al-Ahzab/33:72).
Orang yang demikian dikatakan bodoh dan aniaya, karena tidak mau menggunakan akal pikirannya. Ia lebih suka menuruti hawa nafsunya, sehingga orang yang seperti itu telah Allah siapkan tempatnya di neraka Jahannam. Orang yang demikian itu tidak lebih dari binatang ternak, yang kerjaannya hanya makan , minum tidur dan berkembang biak. Ini adalah pernyataan Allah sendiri dalam firman- Nya:
instropeksi terhadap dirinya. Kebaikan apa yang telah diamalkan dan kejahatan apa yang telah dilakukan baik terhadap diri sendiri, keluarga, saudara, kerabat, tetangga, handai tolannya, lingkungan masyarakatnya, tanah air, bangsa, negara dan agamanya. Dengan demikian ia bisa memperbaiki kesalahan dan kealpaannya dengan amal shalih dan meningkatkan segala kebaikannya, sehingga hari ini akan lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Janganlah ia merasa selalu benar terus, tanpa merasa pernah berbuat kesalahan-kesalahan apapun.
Jadikanlah tahun ini sebagai titik balik untuk bercermin pada tahun-tahun
yang telah lalu, sehingga kita bisa memperhitungkan bekal kita menuju kehidupan berikutnya setelah kita tinggalkan dunia yang fana ini. Nabi SAW. Bersabda:
Sidang Hari Raya ‘Idul Fitri yang berbahagia
Mari kita tutup lembaran masa lalu yang buruk/jelek dan kita buka lembaran baru yang baik-baik, jika sekiranya memang menghendaki keselamatan dunia dan akherat.(Dan untuk mengakhiri khutbah ini perkenankan saya untuk menyampaikan sebuah renungan yang bisa kita petik pelajarannya yang sangat berharga berikut ini):
Suatu hari Imam al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya, lalu Imam al-Ghazali bertanya,
pertama ,”Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam al-Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tapi yang paling dekat dengan kita adalah mati . Sebab itu sudah janji Allah SWT. bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.Lalu Imam al-Ghazali meneruskan pertanyaan yang
kedua, ,”Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”, murid-muridnya ada yang menjawab negeri Cina, Bulan, Matahari dan Bintang-Bintang. Lalu Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimana pun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu, kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama. Lalu Imam al-Ghazali meneruskan pertanyaan yang
ketiga,”Apa yang paling besar di dunia ini ?”. Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, Bumi dan Matahari.. “Semua jawaban itu benar” kata Imam al-Ghazali, tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah nafsu.(al-A’raf:179), maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita,jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka Jahannam. Pertanyaan
keempat adalah “Apakah yang paling berat di dunia ini ?”.Ada yang menjawab baja,besi dan gajah. Semua jawaban benar kata Imam al-Ghazali, tapi yang paling berat adalah memegang amanat.(al-Ahzab:72). Tumbuh-tumbuhan , binatang ,gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT. meminta mereka untuk menjadi Khalifah(pemimpin) di dunia ini, tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT., sehingga banyak dari manusia masuk neraka nantinya, karena ia tidak bisa memegang amanat-Nya.Pertanyaan
kelima adalah “Apa yang paling ringan di dunia ini?”.Ada yang menjawab kapas, angin, debu dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam al-Ghazali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan shalat.Gara-gara pekerjaan kita berani meninggalkan kewajiban shalat. Lantas pertanyan
keenam adalah”Apakah yang paling tajam di dunia ini?”.Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang,……Benar kata Imam al-Ghazali, tapi yang paling tajam adalah lidah manusia. Karena melalui lidah, manusia gampang menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Comment by m ihsan dacholfany (alumnus Gontor) — 18 July 2009 @ 1:14 am