Suap Lagi…
Habis baca emailnya Mas Jelajah, baru sekarang nih kasih komentar. Sekalian sambil nunggu kereta sampai di stasiun Citayam, dari pada bengong mendingan nulis.
Kalau kita ngobrol tentang suap, kayaknya ga ada habisnya ya. Cuma sayang orang jaman sekarang dah susah sekali membedakan mana yang suap dan mana yang bukan suap.
Sekarang sudah bukan lagi bawahan ‘nyetor’ ke atasan. Atau penjual memberikan ‘fee’ kepada pembeli. Atau orang yang cari kerja memberikan ‘uang diterima’ supaya bisa lolos ujian masuk jadi PNS. Tapi sekarang juga sudah banyak calon atasan yang melakukan ‘serangan fajar’ kepada calon masyarakat untuk jadi kepala desa.
Sekali lagi, banyak yang ga sadar kalau itu suap.
Akan ada yang berkata, “Wajar dong saya ngasih ke atasan, bagi-bagi rejeki, khan dia yang milih saya duduk di jabatan ini”. Penyuap tidak menyadari bahwa yang dilakukanya akan membutakan atasannya. Ia akan membela mati-matian apapun yang dilakukan penyuap baik itu halal atau haram, baik itu legal maupun illegal karena ia juga mendapat bagian.
Juga akan ada yang berkata, “Lumrah, toh memang sudah ada pos nya dari perusahaan saya untuk ngasih fee ke pelanggan”. Pernyataan ini terkesan penghalalan atas pemberian fee karena telah masuk dalam budget peusahaan. Namun perlu diketahui semakin besar fee yang diberikan akan semakin mahal barang yang dijual. Ini akan merugikan perusahaan dalam segi harga dan kemungkinan juga dari segi kualitas.
Ada juga masalah uang masuk untuk calon pegawai yang sedang di uji kemampuannya. Padahal jika ini dilakukan akan terjadi banyak keburukan setelahnya. Jika diterim kemungkinan kualitas kerjanya tidak sebaik yang di harapkan karena ia diluluskan dengan tanda kutip. Bisa jadi ia juga balas dendam untuk mengganti uang yang telah dikeluarkan untuk masuk jadi pegawai. Dan banyak hal lain.
Demikian juga dengan calon kepala desa yang memberikan ‘serangan fajar’ kepada pra calon pemilih. Setali tiga uang. Tidak ada bedanya.
Hummm, baru ngomongin empat contoh aja dah panjang. Ga kerasa dah sampai stasiun Universitas Indonesia.
[Sambil memperhatikan kondektur yang memeriksa karcis. Ternyata…… ada penumpang yang cuma bayar 3ribu perak di KRL Express gini. Padahal harga karcinya 13ribu. Suap…. atau Korupsi…]
Baca juga artikel :
Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://baiturrahmah.blogsome.com/2006/11/15/suap-lagi/trackback/
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>










