Hal Lain Tentang Tauhid
Menyambung dari artikel Macam-Macam Tauhid, berikut disajikan berbagai hal tentang tauhid seperti : Keutamaan Tauhid, Tauhid Pengantar Bahagia dan Pelebut dosa, Manfaat Tauhid, Musuh-Musuh Tauhud dan Sikap Ulama Terhadap Tauhid yang diringkas dari buku Jalan Golongan Selamat, karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu, yang diringkas oleh Al-Akh Abu Tilmidz.
A. KEUTAMAAN TAUHID
- Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An’am: 82)
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, "Ketika ayat ini turun, banyak umat Islam yang merasa sedih dan berat. Mereka berkata siapa di antara kita yang tidak berlaku zhalim kepada dirinya sendiri? Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab:
"Yang dimaksud bukan (kezhaliman) itu, tetapi syirik. Belumkah kalian mendengar nasihat Luqman kepada puteranya, "Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah (syirik) benar-benar suatu kezhaliman yang besar" (Luqman: 13) (Mutafaq Alaih)
Ayat ini memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengesakan Allah. Orang-orang yang tidak mencampur adukkan antara keimanan dengan syirik. Serta menjauhi segala bentuk perbuatan syirik. Sungguh mereka akan mendapatkan keamanan yang sempurna dari siksaan Allah di akhirat. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk di dunia.
- Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
"Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ‘Laa Ilaaha Illallah’dan cabang paling rendah adalah menyingkirkan kotoran dari jalan." (HR. Muslim)
B. TAUHID PENGANTAR BAHAGIA DAN PELEBUR DOSA
Dalam kitab Dalilul Muslim fil I’tiqaadi wat Tathhiir karya Syaikh Abdullah Khayyath dijelaskan, "Dengan kemanusiaan dan ketidakmaksumannya, setiap manusia berkemungkinan terpeleset, terjerumus dalam maksiat kepada Allah."
Jika dia adalah seorang ahli tauhid yang murni dari kotoran-kotoran syirik maka tauhidnya kepada Allah, serta ikhlasnya dalam mengucapkan "Laa ilaaha illallah" menjadi penyebab utama bagi kebahagiaan dirinya, serta menjadi penyebab bagi penghapusan dosa-dosa dan kejahatannya. Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :
"Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya, dan kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam serta ruh daripadaNya, dan (bersaksi pula bahwa) Surga adalah benar adanya dan Neraka pun benar adanya maka Allah pasti memasukkannya ke dalam Surga, apapun amal yang diperbuatnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maksudnya, segenap persaksian yang dilakukan oleh seorang muslim sebagaimana terkandung dalam hadits di atas mewajibkan dirinya masuk Surga, tempat segala kenikmatan. Sekalipun dalam sebagian amal perbuatannya terdapat dosa dan maksiat. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
"Hai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaKu dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika menemuiKu dalam keadaan tidak menyekutukanKu sedikitpun, niscaya Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula." (HR. At-Tirmidzi dan Adh-Dhayya’, hadits hasan)
Maknanya, seandainya engkau datang kepadaKu dengan dosa dan maksiat yang banyaknya hampir sepenuh bumi, tetapi engkau meninggal dalam keadaan bertauhid, niscaya aku ampuni segala dosa-dosamu itu.
Dalam hadits lain disebutkan:
"Barangsiapa meninggal dunia (dalam keadaan) tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, niscaya akan masuk Surga. Dan barangsiapa meninggal dunia (dalam keadaan) berbuat syirik kepada Allah, niscaya akan masuk Neraka." (HR. Muslim)
Hadits-hadits di atas menegaskan tentang keutamaan tauhid. Tauhid merupakan faktor terpenting bagi kebahagiaan seorang hamba. Tauhid juga merupakan sarana yang paling agung untuk melebur dosa-dosa dan maksiat.
C. MANFAAT TAUHID
Jika tauhid yang murni terealisasi dalam hidup seseorang, baik secara pribadi maupun jama’ah, niscaya akan menghasilkan buah yang amat manis. Di antara buah yang didapat adalah:
- Memerdekakan manusia dari perbudakan serta tunduk kepada selain Allah, baik benda-benda atau makhluk lainnya:
Semua makhluk adalah ciptaan Allah. Mereka tidak kuasa untuk menciptakan, bahkan keberadaan mereka karena diciptakan. Mereka tidak bisa memberi manfaat atau bahaya kepada dirinya sendiri. Tidak mampu mematikan, menghidupkan atau membangkitkan.
Tauhid memerdekakan manusia dari segala perbudakan dan penghambaan kecuali kepada Tuhan yang menciptakan dan membuat dirinya dalam bentuk yang sempurna. Memerdekakan hati dari tunduk, menyerah dan menghinakan diri. Memerdekakan hidup dari kekuasaan para Fir’aun, pendeta dan dukun yang menuhankan diri atas hamba-hamba Allah.
Karena itu, para pembesar kaum musyrikin dan thaghut-thaghut jahiliyah menentang keras dakwah para nabi, khususnya dakwah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam . Sebab mereka mengetahui makna laa ilaaha illallah sebagai suatu permakluman umum bagi kemerdekaan manusia. Ia akan menggulingkan para penguasa yang zhalim dan angkuh dari singgasana dustanya, serta meninggikan derajat orang-orang beriman yang tidak bersujud kecuali kepada Tuhan semesta alam.
- Membentuk kepribadian yang kokoh:
Tauhid membantu dalam pembentukan kepribadian yang kokoh. Ia menjadikan hidup dan pengalaman seorang ahli tauhid begitu istimewa. Arah hidupnya jelas, tidak mempercayai Tuhan kecuali hanya kepada Allah. KepadaNya ia menghadap, baik dalam kesendirian atau ditengah keramaian orang. Ia berdo’a kepadaNya dalam keadaan sempit atau lapang.
Berbeda dengan seorang musyrik yang hatinya terbagi-bagi untuk tuhan-tuhan dan sesembahan yang banyak. Suatu saat ia menghadap dan menyembah kepada orang hidup, pada saat lain ia menghadap kepada orang yang mati.
Sehubungan dengan ini, Nabi Yusuf Alaihissalam berkata:
"Hai kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa?" (Yusuf: 39)
Orang mukmin menyembah satu Tuhan. Ia mengetahui apa yang membuatNya ridha dan murka. Ia akan melakukan apa yang membuatNya ridha, sehingga hatinya tenteram. Adapun orang musyrik, ia menyembah tuhan-tuhan yang banyak. Tuhan ini menginginkannya ke kanan, sedang tuhan lainnya menginginkannya ke kiri. Ia terombang-ambing di antara tuhan-tuhan itu, tidak memiliki prinsip dan keteapan.
- Tauhid sumber keamanan manusia:
Sebab tauhid memenuhi hati para ahlinya dengan keamanan dan ketenangan. Tidak ada rasa takut kecuali kepada Allah. Tauhid menutup rapat celah-celah kekhawatiran terhadap rizki, jiwa dan keluarga. Ketakutan terhadap manusia, jin, kematian dan lainnya menjadi sirna. Seorang mukmin yang mengesakan Allah hanya takut kepada satu, yaitu Allah. Karena itu, ia merasa aman ketika manusia ketakutan, serta merasa tenang ketika mereka kalut.
Hal itu diisyaratkan oleh Al-Qur’an dalam firmanNya:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik) mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An’am: 82)
Keamaan ini bersumber dari dalam jiwa, bukan oleh penjaga-penjaga polisi atau pihak keamanan lainnya. Dan keamanan yang dimaksud adalah keamanan dunia. Adapun keamanan akhirat maka lebih besar dan lebih abadi mereka rasakan.
Yang demikian itu mereka peroleh, sebab mereka mengesakan Allah, mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah dan tidak mencampuradukkan tauhid mereka dengan syirik, karena mereka mengetahui, syirik adalah kazhaliman yang besar.
- Tauhid sumber kekuatan jiwa:
Tauhid memberikan kekuatan jiwa kepada pemiliknya, karena jiwanya penuh harap kepada Allah, percaya dan tawakkal kepadaNya, ridha atas qadar (ketentuan)Nya, sabar atas musibahNya, serta sama sekali tak mengharap sesuatu kepada makhluk. Ia hanya menghadap dan meminta kepadaNya. Jiwanya kokoh seperti gunung. Bila datang musibah ia segera mengharap kepada Allah agar dibebaskan darinya. Ia tidak meminta kepada orang-orang mati. Syi’ar dan semboyannya adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :
"Bila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan bila kamu memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)
Dan firman Allah Subhanahu wata’ala :
"Jika Allah menimpakan kemudharatan kepadamu maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri." (Al-An’am: 17)
- Tauhid dasar persaudaraan dan persamaan:
Tauhid tidak membolehkan pengikutnya mengambil tuhan-tuhan selain Allah di antara sesama mereka. Sifat ketuhanan hanya milik Allah satu-satunya dan semua manusia wajib beribadah kepadaNya. Segenap manusia adalah hamba Allah, dan yang paling mulia di antara mereka adalah Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.
D. MUSUH-MUSUH TAUHID
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh. Yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)." (Al-An’am: 112)
Di antara hikmah dan kebijaksanaan Allah adalah menjadikan bagi para nabi dan du’at tauhid musuh-musuh dari jenis setan-setan jin yang membisikkan kesesatan, kejahatan dan kebatilan kepada setan-setan dari jenis manusia. Hal itu untuk menyesatkan dan menghalangi mereka dari tauhid yang merupakan dakwah utama dan pertama para nabi kepada kaumnya.
Adapun orang-orang musyrik yang mengakui tauhid rububiyah, dan bahwa Allah pencipta mereka, mereka mengingkari tauhid uluhiyah dalam berdo’a kepada Allah semata, dengan tidak mau meninggalkan berdo’a kepada wali-wali mereka. Kepada Rasulullah yang mengajak mereka mengesakan Allah dalam ibadah dan do’a, mereka berkata:
"Mengapa dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." (Shaad: 5) >
Tentang umat-umat terdahulu Allah berfirman:
"Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengata-kan, ‘Dia itu adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas," (Adz-Dzaariyaat: 52-53)
Di antara sifat kaum musyrikin adalah jika mereka mendengar seruan kepada Allah semata, hati mereka menjadi kesal dan melarikan diri, mereka kufur dan mengingkarinya. Tetapi jika mendengar syirik dan seruan kepada selain Allah, mereka senang dan berseri-seri. Allah menyifati orang-orang musyrik itu dengan firmanNya:
"Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, dan apabila nama sesembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati." (Az-Zumar: 45)
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
"Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja yang disembah. Dan kamu percaya apabila Allah diperseku-tukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar," (Ghaafir: 12)
Ayat-ayat di atas meski ditujukan kepada orang-orang kafir, tetapi bisa juga berlaku bagi setiap orang yang memiliki sifat seperti orang-orang kafir. Misalnya mereka yang mendakwahkan dirinya sebagai orang Islam, tetapi memerangi dan memusuhi seruan tauhid, membuat fitnah dusta kepada mereka, bahkan memberi mereka julukan-julukan yang buruk. Hal itu dimaksudkan untuk menghalangi manusia menerima dakwah mereka, serta menjauhkan manusia dari tauhid yang karena itu Allah mengutus para rasul.
Termasuk dalam golongan ini adalah orang-orang yang jika mendengar do’a kepada Allah hatinya tidak khusyu’. Tetapi jika mendengar do’a kepada selain Allah, seperti meminta pertolongan kepada rasul atau para wali, hati mereka menjadi khusyu’ dan senang. Sungguh alangkah buruk apa yang mereka kerjakan.
E. SIKAP ULAMA TERHADAP TAUHID
Ulama adalah pewaris para nabi, Dan menurut keterangan Al-Qur’an, yang pertama kali diserukan oleh para nabi adalah tauhid, sebagaimana disebutkan Allah dalam firmanNya:
"Dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut," (An-Nahl: 36)
Karena itu wajib bagi setiap ulama untuk memulai dakwahnya sebagaimana para rasul memulai. Yakni pertama kali menyeru manusia kepada mengesakan Allah dalam segala bentuk peribadatan. Terutama dalam hal do’a, sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :
"Do’a adalah ibadah". (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits ha-san shahih)
< Saat ini kebanyakan umat Islam terjerumus ke dalam perbuatan syirik dan berdo’a (memohon) kepada selain Allah. Hal inilah yang menyebabkan kesengsaraan mereka dan umat-umat terdahulu. Allah membinasakan umat-umat terdahulu karena mereka berdo’a dan beribadah kepada selain Allah, seperti kepada para wali, orang-orang shalih dan sebagainya.
Adapun sikap ulama terhadap tauhid dan dalam memerangi syirik, terdapat beberapa tingkatan:
- Tingkatan paling utama:
Mereka adalah ulama yang memahami tauhid, memahami arti penting tauhid dan macam-macamnya. Mereka mengetahui syirik dan macam-macamnya. Selanjutnya para ulama itu melaksanakan kewajiban mereka: menjelaskan tentang tauhid dan syirik kepada manusia dengan menggunakan hujjah (dalil) dari Al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits shahih . Para ulama tersebut, tak jarang sebagaimana para nabi dituduh dengan berbagai macam tuduhan bohong, tetapi mereka sabar dan tabah. Syi’ar dan semboyan mereka adalah firman Allah:
"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik." (Al-Muzammil: 10)
Dahulu kala, Luqmanul Hakim mewasiatkan kepada putranya, seperti dituturkan dalam firman Allah:
"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (Luqman: 17) - Tingkatan kedua:
Mereka adalah ulama yang meremehkan dakwah kepada tauhid yang menjadi dasar agama Islam. Mereka merasa cukup mengajak manusia mengerjakan shalat, memberikan penjelasan hukum dan berjihad, tanpa berusaha meluruskan aqidah umat Islam. Seakan mereka belum mendengar firman Allah Subhanahu wata’ala :
"Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al-An’am: 88)
Seandainya mereka dahulu mengajak kepada tauhid sebelum mendakwahkan kepada yang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh para rasul, tentu dakwah mereka akan berhasil dan akan mendapat pertolongan dari Allah, sebagaimana Allah telah memberikan pertolongan kepada para rasul dan nabiNya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (An-Nuur: 55)
Karena itu, syarat paling asasi untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah tauhid dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.
- Tingkatan ketiga:
Mereka adalah ulama dan du’at yang meninggalkan dakwah kepada tauhid dan memerangi syirik, karena takut ancaman manusia, atau takut kehilangan pekerjaan dan kedudukan mereka. Karena itu menyembunyikan ilmu yang diperintahkan Allah agar mereka sampai-kan kepada manusia. Bagi mereka adalah firman Allah:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati." (Al-Baqarah: 159)
Semestinya para du’at adalah sebagaimana difirmankan Allah:
"(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepadaNya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah," (Al-Ahzab: 39)
Dalam kaitan ini Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa menyembunyikan ilmu, niscaya Allah akan mengekangnya dengan kekang dari api Neraka." (HR. Ahmad, hadits shahih)
- Tingkatan keempat:
Mereka adalah golongan ulama dan para syaikh yang menentang dakwah kepada tauhid dan menentang berdo’a semata-mata kepada Allah. Mereka menentang seruan kepada peniadaan do’a terhadap selain Allah, dari para nabi, wali dan orang-orang mati. Sebab mereka membolehkan yang demikian.
Mereka menyelewengkan ayat-ayat ancaman berdo’a kepada selain Allah hanya untuk orang-orang musyrik. Mereka beranggapan, tidak ada satu pun umat Islam yang tergolong musyrik. Seakan-akan mereka belum mendengar firman Allah:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-An’am: 82)
Dan kezhaliman di sini artinya syirik, dengan dalil firman Allah:
"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar." (Luqman: 13)
Menurut ayat ini, seorang muslim bisa saja terjerumus kepada perbuatan syirik. Hal yang kini kenyataannya banyak terjadi di negara-negara Islam.
Kepada orang-orang yang membolehkan berdo’a kepada selain Allah, mengubur mayit di dalam masjid, thawaf mengelilingi kubur, nadzar untuk para wali dan hal-hal lain dari perbuatan bid’ah dan mungkar, kepada mereka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memperingatkan:
"Sesungguhnya aku sangat takutkan atas umatku (adanya) pemimpin-pemimpin yang menyesatkan." (Hadits shahih, riwayat At-Tirmidzi)
Salah seorang Syaikh Universitas Al-Azhar terdahulu, pernah ditanya tentang bolehnya shalat atau memohon ke kuburan, kemudian syaikh tersebut berkata, "Mengapa tidak dibolehkan shalat (memohon) ke kubur, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam di kubur di dalam masjid, dan orang-orang shalat (memohon) ke kuburannya?"
Syaikh Al-Azhar menjawab: "Harus diingat, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tidak dikubur di dalam masjidnya, tetapi beliau dikubur di rumah Aisyah. Dan Rasulullah melarang shalat (memohon) ke kuburan. Dan sebagian dari do’a Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam adalah:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat." (HR. Muslim)
Maksudnya, yang tidak aku beritahukan kepada orang lain, dan yang tidak aku amalkan, serta yang tidak menggantikan akhlak-akhlakku yang buruk menjadi baik. Demikian menurut keterangan Al-Manawi.
- Tingkatan kelima:
Mereka adalah orang-orang yang mengambil ucapan-ucapan guru dan syaikh mereka, dan menta’atinya meskipun dalam maksiat kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang melanggar sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam :
"Tidak (boleh) ta’at (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah, sesungguhnya keta’atan itu hanyalah dalam kebajikan." (HR. Al-Bukhari)
Pada hari Kiamat kelak, mereka akan menyesal atas keta’atan mereka itu, hari yang tiada berguna lagi penyesalan. Allah menggambarkan siksaNya terhadap orang-orang kafir dan mereka berjalan di atas jalan kufur, dalam firmanNya:
"Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andaikata kami ta’at kepada Allah dan ta’at (pula) kepada Rasul.’ Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar." (Al-Ahzab: 66-68)
Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini berkata, "Kami mengikuti para pemimpin dan pembesar dari para syaikh dan guru kami, dengan melanggar keta’atan kepada para rasul. Kami mempercayai bahwa mereka memiliki sesuatu, dan berada di atas sesuatu, tetapi kenyata-annya mereka bukanlah apa-apa."
1 Comment »
The URI to TrackBack this entry is: http://baiturrahmah.blogsome.com/2006/12/08/hal-lain-tentang-tauhid/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>











Syahadat tentang Allah
Ajaran yang paling mendasar dalam Agama Islam ialah : Adanya pengucapan atas suatu pengakuan atau persaksian (bersyahadat), barulah seseorang itu diakui beragama Islam dan sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw. Ketika seseorang telah berikrar dalam satu pengakuan atau persaksian yang diucapkannya dengan sadar, mengerti dan memahami yaitu Asyhadu an Laa Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadurrasullullah. Inilah sebagai pintu gerbang keber-Islaman seseorang yang baru dimasukinya Jika keliru dalam memasuki pintu ini maka yang terjadi adalah “ Terkesan jasadnya saja yang memasuki pintu itu namun pikiran dan hatinya masih diluar gerbang atau terkesan jasadnya saja yang Islam namun hati dan pikirannya masih ragu – ragu atau kafir (ingkar).
Orang² yang demikian ini hanya mengutamakan pembangunan² fisik atau kesalehan jasad saja serta simbol² untuk menampilkan keberIslaman mereka namun pikiran dan hatinya penuh perseteruan yaitu keragu²an dan keingkaran pada Allah dan RasulNya serta keserakahan dan kedengkian antar sesama. Dengan demikian dapat dipahami nenek moyang atau orangtua yang beragama Islam tidak lantas anaknya otomatis beragama Islam, sampai anak tersebut juga bersyahadat dengan ucapan yang sama, untuk itulah makanya ucapan syahadat ini diperintahkan supaya diucapkan ketika anak baru lahir, sebagai lafaz dzikir atau menjelang sakratul maut juga diulang² dalam setiap azan, shalat, dll. agar dipahami dan meresap kedalam hati seperti air, meresap ketanah yang keras lagi tandus dan menyuburkannya
Bersaksi atau menjadi saksi dengan satu ucapan yang tidak dimengerti artinya atau dipahami maksudnya adalah suatu hal yang keliru karena orang yang diangkat sebagai saksi dipengadilan saja harus mengetahui atau menyaksikan permasalahan kesaksiannya minimal dia mengerti permasalahan bukan hanya sekedar mengucap² saja, seseorang yang benar² menyaksikanlah yang dapat diambil persaksiannya dan dapat memberikan bukti² atau dalil² dari ucapan persaksiannya.
Umpama : Jika seseorang menjadi saksi lalu mengucapkan Asyhadu an Laa Ilaha Illallah yang bermakna “ Aku bersaksi “bahwasanya Tidak ada tuhan selain Allah. maka seseorang tadi harus bisa membuktikan atau menampilkan dalil² bahwa tidak ada yang berhak disebut tuhan selain dari Allah, namun dia juga harus terlebih dahulu mengerti, memahami serta bisa menjabarkan siapa orang yang pertama kali mencetuskan kata tuhan itu dan apa arti atau maksud dari kata itu, sebelum menambahnya dalam daftar Asma –asma Allah dalam Asma ul Husna.
Misalnya menyelediki apakah tuhan itu sebuah nama dari satu benda, seseorang atau sesembahan yang selain dari Allah yang sudah ada sebelum Islam itu hadir di Indonesia atau sebuah kata yang diciptakan penjajah dengan tujuan pengembangan suatu agama tertentu, sebuah kata yang dijadikan gelar pada seorang manusia sehingga menjadi hilang kemanusiaannya sehingga orang rela untuk menyembah dan memujinya dan meminta pertolongan padanya, yang mana boleh jadi tanpa suatu ” kata/nama ” yang diciptakan atau direkayasa sesuai dengan bahasa daerah yang menjadi target ! lalu disosialisasikan, maka agama tersebut tidak bisa berkembang atau kemudian kehilangan akidah atau doktrinnya, misalnya dalam agama Kristen mereka memberi gelar tuhan kepada Yesus, yang sebelumnya bergelar Mesiah, Al masih seorang anak manusia yang dilahirkan dari rahim seorang wanita. Jika tidak ada kata tuhan atau god maka otomatis Yesus akan turun jadi manusia kembali sebagaimana manusia normal lainnya dan bergelar Nabi /Rasul utusan dari Pencipta alam semesta ini, jadi keberadaan kata tuhan dan god inilah yang menyokong Yesus sehingga banyak manusia yang menaruh harapan dan menyembahnya, sementara umat kristen sendiri tidak tau asal usul dan makna sebenarnya dari kata tuhan dan god itu kecuali sebuah kata causa prima padahal kata apa saja bisa dikategorikan causa prima dan disakralkan apabila banyak orang yang mendukungnya apalagi dengan pemaksaan dan kekerasan. sebagaimana yang terjadi ketika paulus mengangkat yesus menjadi god pada saat itu pengikut yesus yang tidak mengakui yesus itu adalah god maka mereka dibantai dan yang tau makna god yang sebenarnya itu hanyalah paulus dan kawan-kawannya dan bagi yang lain dianggap sebuah kata causa prima, kemudian kata tuhan tersebut diwarisi turun temurun, lalu diambil, diangkat dan disosialisasikan untuk pencapaian dari suatu tujuan politik untuk persatuan dan kebersamaan, dll.
Jadi jelas kata tuhan atau god itu adalah julukan yang direkayasa manusia sebagai gelar kepada Yesus untuk mengkamuflase jati diri yesus yang sebenarnya dan kata tersebut bersifat lokal dan tidak universal dan setiap agama yang ada di Indonesia atau dunia sebenarnya telah memiliki nama-nama atau gelar terhadap apa yang mereka sembah dan puja yang sebelumnya sudah ada didalam ajaran kitab suci mereka yang harus mereka sucikan dan besarkan, dengan menyisipkan atau memaksakan sesuatu nama atau gelar yang baru justru akan mengacaukan akidah-akidah mereka yang justru menimbulkan kemunafikan- kemunafikan yang melampaui batas..
Dengan demikian umat Islam juga harus bisa mengerti bahwa mereka diperintahkan untuk mengikuti Sunnah Nabi Muhammad Saw dengan mensucikan dan membesarkan Nama dan Asma-asma Allah bukan mengikuti sunnah Paulus orang yahudi atau Orang tak dikenal (OTK), seseorang yang bersaksi harus terlebih dahulu memahami ucapan yang dipersaksikannya dan tujuannya karena bisa jadi dia mengigau atau saksi palsu / dusta / keliru apalagi menujukan kata tuhan atau god itu pada Allah .
Sesungguhnya Asma-asma yang diajarkan Allah itu memiliki makna dan tujuan yang fitrah sesuai dengan keadaan dan akal manusia sebagai penghubung antara Pencipta dan ciptaan-NYA, sehingga manusia bisa mengenal siapa dirinya dan apa kewajibannya dan siapa Penciptanya tanpa perlu penjelasan yang panjang lebar dan berliku-liku, misalnya Allah menjuluki diri-Nya dengan Rabb, makna Rabb adalah Tuan/Pemilik ini dapat menjelaskan bahwa kita adalah hamba atau milik-Nya dan semua yang kita kuasai selama ini adalah mutlak milik-Nya , sehingga sebagai hamba kita mengerti bagaimana seharusnya mengabdi dan bersikap terhadap Tuan atau Pemilik kita dan menjaga apa-apa yang telah dititipkan-Nya dan apa ganjaran yang akan kita peroleh jika kita patuh dan setia padaNya dan resiko apa yang akan kita terima jika kita melalaikan atau mengingkari perintah dan larangan-Nya atau jika kita menghianati-Nya dengan menghamba atau memuja atau menyebut selain dari-Nya dan kita juga bisa memahami bagaimana keadaan dan kedudukan hamba-hamba yang berbakti dengan tulus ikhlas padaNya, demikian juga dengan Malik = Raja dengan memahami ini maka kita dapat mengerti sebagai rakyat-Nya apa resiko yang akan kita hadapi jika kita meremehkan dan mengingkari aturan-aturan-Nya, dan Illaha = Penguasa/Yang Kuasa ini juga mengisyaratkan bahwa kita dan seluruh alam semesta ini berada didalam kekuasaan-Nya dan tidak ada seorangpun manusia yang bisa lari dari-Nya, setiap manusia pasti mati dan kembali kepada-Nya lalu akan ditanyakan apa-apa yang sudah mereka kerjakan dan akan diperlihatkan bekas-bekas atau akibat dari hasil-hasil kerja mereka selama hidup didunia ini dengan memahami ini akan membuat kita lebih waspada agar kita tidak menghianati - Nya dan merasa tentram didalam genggaman (Kekuasaan)-Nya,
Dengan memahami makna dari beberapa Asma-asma Allah diatas, secara otomatis akan memudahkan untuk memahami maksud dari ayat-ayat juga perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan Allah didalam Al-Qur’an tanpa ada rasa was-was atau hijab. karena kata tuhan atau god yang dinisbatkan kepada Allah sebenarnya adalah hijab - hijab yang memutuskan pengertian hubungan erat antara kita dengan Allah, kata-kata yang tidak bermakna yang memerlukan penjelasan yang panjang lebar dan diada-adakan.
Perlu dipahami secara bijak dan diwaspadai bahwa ajaran agama itu diturunkan atau diajarkan dengan kata-kata dan dengan kata-kata itu pulalah Iblis dan pengikutnya selama ini menyesatkan manusia dengan cara menghilangkan,menyembunyikan, merubah ataupun mengaburkan sehingga kehilangan makna yang akhirnya kehilangan arah dan tujuan (surah An-naas).
Perlu dimaklumi bahwasanya Allah memiliki Asma ul Husna sendiri yang berasal dari Dia dan hanya pantas ditujukan untuk diriNya saja yang bersifat agung, permanen dan abadi.
Qs;Yusuf 40 (Kamu tidak mengabdi yang selain Allah, kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menghamba selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ).
Qs; Az Zumar 45 (Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati).
Qs;Al A’raaf 180 ” Untuk Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang/meyelewengkan nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Nah, pikirkanlah ! sementara Allah sendiripun tidak pernah menurunkan keterangan tentang itu dan Nabi pun tidak pernah menyuruhnya, Siapa yang akan menjadi penanggung jawabnya ? kenapa untuk yang ini, kita tidak mengikuti apa yang dikehendaki Allah dan sunnah Nabi Muhammad Saw dengan menyebut Allah dengan Allah, Rabb, Malik, Illahi , (Asma Ul husna). Bukankah dengan demikian lebih nyata keberIslaman kita dan pasti lurus jalan kita, lagi pula Nabi sendiri kan yang menjadi penanggung jawabnya, apakah kita tidak percaya padanya ?
Perlu dipahami baik² bahwa Allah adalah Nama Zat yang tidak dapat/boleh diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa lain. kecuali sifat-sifatNya guna memudahkan pemahaman dan Allah hanya memberikan Asma²Nya saja pada kita dan tidak ada satupun kita yang bisa melihat atau membayangkan ZatNya atau wujudNya, maka untuk ini kita harus berhati² dengan Asma² yang ditujukan pada Allah karena bisa jadi musryik karena yang dimaksud dengan syirik kepada Allah itu diantaranya adalah mempersekutukan Zat, Nama², maupun Sifat² Allah, karena bagi Allah semua itu bersifat agung, permanen dan abadi, lagipula sarana yang paling efektif bagi iblis dan pengikutnya untuk menyesatkan manusia adalah dengan melalaikan asma-asma yang datang dari Allah dengan asma-asma baru yang dipopulerkan meski tanpa makna dan maksud yang jelas atau ” kata ” yang disakralkan dan dikultuskan dan tak jarang disosialisasikan dan dipertahankan dengan kekerasan dan intimidasi sehingga banyak manusia yang menyampaikan permohonan dan rasa syukur pada nama-nama yang mereka buat-buat sendiri yang mana akhirnya tidak mencapai sasaran, Atau apakah kita boleh memberi nama² atau gelar² baru kepada Allah menurut semau kita atau hanya berdasarkan kesepakatan sekelompok orang atau dari nenek moyang kita ? (QS: Al Maa’idah 104 ; Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati dari bapak-bapak kami”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?
Dalam ajaran agama selain dari Islam, Nama sembahan mereka boleh berubah-ubah sesuai dengan bahasa daerah dimana agama tersebut akan dikembangkan juga bisa ditambah atau dikurangkan sesuai dengan keinginan manusia , dan ironisnya tak jarang manusia yang menyampaikan ajaran tersebut juga jadi sasaran penyembahan atau minta disembah. dan hal yang demikian ini tidak berlaku pada agama Islam, Perlu diketahui dalam ajaran agama Islam tidak dikenal dengan istilah toleransi dalam beragama (Akidah dan Ibadah ) lebih baik kita berbeda dalam satu kepastian dari pada bersatu dan bersama dalam suatu kesesatan, namun demikian ajaran agama Islam sangat-sangat menjujung tinggi toleransi kemanusiaan dan saling tolong menolong antar sesama manusia serta bisa memahami dan menghargai makna perbedaan guna saling mengenal dan berkomunikasi.
Demikian juga jika ada seseorang yang bersaksi “Asyhadu an Laa Ilaha Illallah” Yang bermakna “Aku bersaksi Tidak ada Penguasa (Yang Kuasa) kecuali Allah. Maka dia juga harus bisa membuktikan bahwasanya selain yang bernama Allah tidak ada yang berkuasa di alam semesta ini dan dia juga harus bisa menampilkan dalil² dan bukti² serta bertanya kepada setiap orang “Apakah nama² yang disembah dan dipuja-puji orang dan dianggap berkuasa menolong mereka selama ini sehingga mereka rela mengabdi (menghamba) padanya, selain dari yang bernama Allah itu memiliki kekuasaan dialam semesta ini ? misalnya berkuasa untuk hidup terus menerus tanpa mengantuk dan tidur serta tidak pernah mati, atau berkuasa menjadikan serta menumbuhkan bibit² yang ditanam manusia untuk makanan selama ini atau menurunkan hujan, atau berkuasa menciptakan bumi, bulan, matahari atau apa saja yang ada dialam semesta ini guna kepentingan manusia serta memeliharanya atau memberi kehidupan dan rezeki kepada seluruh makhluk yang ada dialam semesta ini ? atau mampu menciptakan manusia dengan segala keunikan dan keingkarannya, dan mana buktinya ?
Dan setiap orang juga diberi kesempatan untuk mencari dan meneliti di kitab suci masing², perlu dimengerti setiap ajaran dari kitab suci yang ada dimuka bumi berasal dari 3 sumber :
1. Berasal dari hasil pemikiran dan pengkajian manusia.
2. Berasal dari Petunjuk dari Pencipta Alam semesta ini.
3. Berasal dari Perkataan/Ajaran langsung dari Pencipta Alam semesta ini.
Jika kitab suci tersebut ajarannya berasal langsung dari Pencipta alam semesta ini dapat dibuktikan dari pernyataan yang tertulis didalam kitab suci tersebut, seperti penjelasan tentang, bagaimana Dia menciptakan alam semesta ini, seperti langit, bumi dan lain-lain dan apa tujuannya, bagaimana Dia menciptakan manusia dan berasal dari apa mahkluk yang ada dialam semesta ini, bagaimana Dia mengatur alam semesta dan memenuhi kebutuhan mahkluk yang telah diciptakan-Nya, dan bagaimana akhir dari perjalanan alam semesta dan segala isinya ini dan semua penjelasan ini harus dapat dibuktikan dan diterima secara akal/rasio manusia karena kitab suci itu diadakan adalah untuk memberi penerangan kepada manusia yang berakal. dan jika kitab suci tersebut bukan berasal langsung dari pencipta Alam semesta ini atau hasil dari pemikiran manusia sudah pasti dia tidak bisa mengungkapkan tentang rahasia penciptaan alam semesta ini dan tujuannya kecuali hanya hal-hal tentang perbuatan baik atau buruk dan bagaimana cara menyembah, bersyukur dan mengabdi kepada Pencipta alam semesta ini. dengan memahami ini jika selain dari yang bernama Allah itu ternyata tidak ada yang berkuasa berbuat demikian, maka jelaslah dapat dipahami mengapa dia mengucapkan “Tidak ada Penguasa (Yang Kuasa) kecuali Allah” maka secara otomatis dia akan berikrar dengan mengucapkan “Iyyaaka na
budu wa Iyyaa ka nastain Ihdinash shiraathal mustaqiim, yang maknanya : Hanya kepadaMu kami mengabdi (menghamba) dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami kejalan yang lurus karena hanya Allah yang berkuasa memberi pertolongan dan petunjuk juga menyiksa dan menyesatkan siapa saja yang dikehendakiNya tanpa ada yang mampu mencegah sedangkan manusia hanyalah sekedar menyampaikan saja sesuai dengan kemampuannya. bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk sebelumnya mereka memiliki komitmen ” Kami berasal dari Allah dan dilahirkan kedunia untuk mengabdi kepada Allah lalu kembali kepada Allah ”Syahadat tentang Muhammad SAW
Nabi Muhammad Saw adalah salah seorang manusia dari bangsa Arab yang diangkat dan diutus oleh Pencipta dan Pemilik alam semesta ini yang ditugaskan untuk menyampaikan pesan² serta memberi peringatan dan kabar gembira dari Pemilik (Tuan/Majikan) alam semesta dan segala isinya untuk disampaikan kepada seluruh manusia yang telah diciptakanNya, ( Qs; Adz Dzaariya 56 Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi/menghamba padaKu)
Yang mana dalam mengemban tugas ini beliau harus menghadapi berbagai cobaan dari orang² yang lupa diri, yaitu orang-orang yang telah lupa pada Penciptanya yang telah menciptakan jiwa dan raga setiap manusia dari tidak ada menjadi ada dan yang telah memberi berbagai kenikmatan kepada manusia, agar mereka ingat dan bersyukur juga kepada manusia yang serakah dan pendengki. dan beliaupun rela mengorbankan berbagai fasilitas yang dipinjamkan Pencipta alam semesta ini kepadanya bahkan jiwa dan raganya demi kepentingan tugas yang diembannya, untuk kepentingan dirinya dan manusia lainnya.
Suatu pengorbanan yang sangat berarti dan bermanfaat bagi orang yang sadar dan sesuatu yang menjengkelkan bagi orang yang tidak tau diri dan dungu.
“ Bacalah, dengan nama Rabb-mu Yang Menciptakan !, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mu lah Yang Paling Pengasih, ( Qs:Al ‘Alaq ;1-3 ).
Inilah ayat yang pertama yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw melalui Malaikat Jibril As sebagai perintah yang memotivasinya untuk mencari dan mengenal siapa nama Rabb – nya (Tuan-nya/ Pemilik-nya ) yang mampu menciptakan dan yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah, juga Rabb yang paling Pengasih. Makna Rabb itu sendiri adalah sebutan atau gelar terhadap para bangsawan atau tuan (pemilik budak²) pada saat itu. ( Ref. kata ” rabb “ >> Qs; Yusuf, 41-42 ) atau Lord dalam bahasa Inggris.
Sehingga ketika wahyu pertama ini disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, maka mulailah ia meneliti dan mencari diantara para Rabb yang ada saat itu yang mampu menciptakan manusia , dan yang paling Pengasih namun beliau tidak menemukan satupun dari para rabb yang ada pada saat itu yang mampu berbuat demikian, hingga akhirnya beliaupun mengetahui dan mengenal bahwa Rabb-nya bernama Allah, karena hanya Allah Pencipta dan Pemilik mutlak alam semesta dan segala isinya ini, maka tercetuslah kalimat “ Dengan nama Allah yang Pengasih lagi penyayang “ Rabb yang telah menciptakan alam semesta dan segala isinya ini juga menciptakan manusia dari saripati tanah menjadi segumpal darah hingga berwujud manusia. Rabb yang telah menciptakan segala fasilitas untuk kepentingan dan kebutuhan manusia dan diajarkanlah padanya untuk mewajibkan setiap pengikutnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Asyhadu an Laa Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadurrasullullah yang artinya ” Tidak ada Yang Kuasa kecuali Allah ( Yang berkuasa mutlak atas seluruh ciptaanNya) dan Muhammad adalah utusan Allah ”(Yang menyampaikan kebenaran dari Pencipta dan Pemilik alam semesta ini)
Kalimat yang pertama untuk menegaskan Keberadaan, Kekuasaan dan Nama dari Pencipta alam semesta ini, sehingga setiap pengikutnya memiliki pedoman untuk mengabdi dan memohon pertolongan kepada Penciptanya secara langsung tanpa memerlukan perantara dengan satu komitmen “ Kami berasal dari Allah dan dihadirkan kedunia ini untuk mengabdi kepada Allah lalu kami akan pulang kembali kepada Allah “ inilah Jalan yang lurus “ Shirattal Mustaqiim ” Allah hanya memberikan NamaNya saja pada kita sebagai alamat untuk bertemu denganNya kelak, maka umat Islam harus melazimkan Nama Allah itu di mulut, pikiran dan dihati mereka , bukan lain dimulut lain pula dihati dan perlu dipahami dan dimengerti penyebutan kata tuhan oleh empat atau lima penganut agama, kelihatannya saja mereka bersatu dimulut tetapi sesungguhnya mereka pecah dihati dan saling tidak mau tunduk dan beriman satu sama lain, dan mereka mengakui hal ini. itulah cermin dari ajaran kemunafikan. kalimat yang kedua menegaskan posisinya bahwa dia hanyalah seorang Rasul, Utusan “Penyampai pesan” dan seorang hamba dari Pencipta alam semesta ini, kedua kalimat Syahadat ini adalah sebuah proteksi terhadap pengikutnya agar umat Islam tidak tersesat dan kehilangan arah dan tujuan sebagaimana yang terjadi pada umat-umat agama sebelumnya, mereka sekarang telah kehilangan indentitas yang benar dari Pencipta Alam semesta ini, mereka juga tidak memiliki sebuah nama yang satu dari Pencipta Alam semesta ini dan disepakati oleh seluruh pengikut agama-agama tersebut, yang mana akhirnya mereka menyebut dan meminta pertolongan dan menyembah pada nama – nama bahkan benda-benda apa saja yang ditawarkan oleh tokoh-tokoh yang mereka ikuti, sebagai doktrin agama dalam upaya pemasungan akal.
Juga Dua kalimat Syahadat ini juga berfungsi sebagai proteksi kepada pengikut Nabi Muhammad Saw sehingga tidak ada alasan atau peluang untuk mengangkat derajatnya lebih tinggi dari seorang Rasul, . seperti anak, perantara, sekutu dan lain sebagainya, sebagaimana predikat yang pernah disandangkan orang-orang terdahulu pada utusan-utusan sebelumnya yang mana akhirnya mereka menyembah dan meminta pertolongan kepada utusan-utusan tersebut , inilah salah satu penyesatan yang begitu nyata dan berbahaya tentang akidah dan inilah juga sebagai bukti bahwa ajaran Islam bukanlah ajaran dari hasil pikiran manusia, bagaimana Pencipta itu memproteksi Kitab suci, Diri-Nya juga Nabi-Nya dari ketercemaran sebagai mana yang terjadi pada agama sebelumnya dalam mempersiapkan Islam sebagai agama terakhir untuk manusia-manusia akhir jaman.
Manusia yang sudah dicerahkan akalnya pasti hanya mau untuk mengabdi dan bersujud hanya kepada Pencipta akalnya bukan pada akal-akalan orang lain atau sesuatu yang tidak berakal.
Guna bertukar wawasan dan memina silatuhrahim sudilah berkunjung ke web saya di www.ponpesgratis.blogspot.com
Comment by Muhammad Dharmawan — 8 September 2009 @ 10:10 pm