up home page --> Add to Technorati favourites bottom

Flashback!!!

taken from : worth1000.comMembaca curhatnya Tata jadi inget fatchur jaman dulu. Sudah biasa, semua hal yang bila orang lain membutuhkan dengan mudah mereka dapatkan, beda dengan fatchur. Walau sudah mati-matian meminta dan usaha, belum tentu didapat.

Setelah lulus SMEA, tibalah titik puncaknya, orang tua sudah tidak mampu lagi membiayai, mereka hanya bilang, "hanya segini kemampuan kami, sekarang jika kamu ingin sesuatu, berusahalah sendiri". Bahkan hanya untuk secangkir teh, aku harus rela membantu mencuci piring dirumah tetangga!

Dear Tata, waktu itu aku cuma mau dua hal, kerja atau kuliah. Tiap shalat, ada bagian doaku yang kupanjatkan, "Ya Allah berikanlah aku kemampuan menafkahi diriku sendiri" dan bagian doa yang lain, "Ya Allah luluskanlah aku diujian masuk STAN nanti."

Berbulan-bulan kunantikan do’aku dikabulkan Allah, entah berapa lamaran pekerjaan kukirim, tak satupun yang membuatku mendapat pekerjaan. Melihat pengumuman masuk STAN, pupus sudah harapan untuk bisa menjadi mahasiswa yang beruntung dengan kuliah gratis. Entah salah dimana, kurasa aku bisa mengerjakan semua soal. Tapi tak kuhentikan doaku, semoga Allah meluluskan aku diujian masuk STAN tahun depan.

Enam bulan pertama, aku bekerja sebagai penjaga kavling di Tingal Garden Centre, di Desa Sawah Baru Ciputat. Alhamdulillah, tapi gajiku cuma 40ribu.  Saat kuterima gaji, benakku berkata, "Ya Allah segini rejekiku, sesungguhnya aku meragukan apakah aku cukup dengan uang segini? apa aku bisa menikah?". Tapi tak kuhentikan doaku, semoga Allah melapangkan rejekiku di bulan depan.

Terus bekerja semampu yang ku bisa. Semua doa terus terucap. Aku tidak menyadari kalau sebenarnya Allah telah merubahku sedikit-demi sedikit. Tak kusadari gajiku merambah naik, jabatanpun naik jauh berbeda saat aku masuk. Bukan lagi fatchur penjaga kavling yang bersihin kavling, buang sampah, siram pupuk dan insectisida. Tapi tak kuhentikan doaku, semoga Allah terus melapangkan rejekiku dan Semoga Allah memberikan kelulusan di ujian masuk STAN.

Setelah satu setengah tahun bekerja, ku coba ikut  ujian masuk STAN, ini ujian terakhirku, setelah ujian ini sudah habis kesempatanku untuk bisa ikut ujian masuk STAN.  Sungguh-sungguh ku meminta, kutumpahkan seluruh keluh kesahku, sampai mataku kering tak mampu lagi mengeluarkan air, "Ya Allah kabulkanlah".

Tibalah hari pengumuman, sudah pesimis, aku ga mau pergi ke jurangmangu untuk melihat pengumuman. Ibuku memaksa, "Kamu harus lihat!", sampai-sampai ia mengantarku ke jurangmangu untuk melihat hasil tes.

Kucari namaku dari daftar nama yang paling bawah, karena ku yakin aku pasti tidak lulus karena memang tidak mampu, lihat para pesainku mereka fresh graduate, aku? dah dua tahun ga sekolah… Terus ku telusiri lembar-lembar pengumuman tinggal satu lembar dan namaku ga ada. Sudah lemas sendi-sendi, yakin sudah aku ga lulus.

Sampai pada nama terakhir di paling atas daftar, ternyata namaku…. "Ya Allah setelah hampir tiga tahun aku berdoa, sekarang do’aku terkabul", sujud syukur kupanjatkan, kusampaikan berita gembira ini untuk ibuku.

Dear Tata, ga ada yang ga mungkin buat Allah. Jangan pernah putus harapan dari kasih sayang Allah. Teruslah berusaha dan jangan kendor doanya. Kisah si fatchur itu cuma salah satu contoh dari jutaan contoh lain.

Sabar, mungkin ini juga ujian buatmu.

Semoga Allah memudahkan urusanmu. Jangan patah semangat ya.

 



Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://baiturrahmah.blogsome.com/2006/12/12/flashback/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>