Ushulussunnah Point Ke-26
“Sebaik-baik umat sesudah Nabinya yaitu Abu Bakar Siddiq, kemudian Umar bin Khattab,[1] kemudian Utsman bin Affan[2] radhiallahu’anhum ajma’in. Kami mendahulukan tiga orang ini sebagaimana para sahabat Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam mendahulukan mereka[3]. Tidak ada seorangpun diantara mereka (para sahabat) yang berselisih dalam masalah itu[4].
Kemudian sesudah tiga orang ini adalah Ashabusy Syura’ dari para sahabat yang diminta untuk musyawarah. Lima orang sahabat yang diminta untuk musyawarah yaitu, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, semuanya pantas untuk menjadi khalifah dan semuanya adalah imam.
Dan kami (Imam Ahmad bin Hambal) berpendapat demikian yaitu berpegang pada hadits Ibnu Umar dan kami menghitung (tiga orang yang Pertama) sejak Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam masih hidup dan para sahabatnya masih banyak yaitu : Abu Bakar Siddiq, kemudian Umar bin Khattab[5], kemudian Utsman bin Affan kemudian kami diam. Kemudian sesudah para sahabat syura’[6], kemudian Ahlu Badr (orang-orang yang ikut perang badar) dari Muhajirin[7], kemudian Ahlu Badr dari Anshar dari para sahabat Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam menurut kadar hijrah dan terdahulunya mereka dalam beriman (yang pertama dan pertama).”
Penjelasan :
Dalah hadits lain, Dari Ibnu Umar ia berkata kami mengatakan dan Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam ada ditengah-tengah kami bahwa sebaik-baik manusia setelah Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman.” [HR Bukhari].
Dari Abu Hurairah, ia berkata kami bercakap-cakap pada zaman Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam sesungguhnya sebaik-baik umat ini sesudah Nabinya yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman kemudian kami diam.” [HR. Ibnu Abi Asim].
Hadits lainnya dari Ali bin Abi Thalib ia berkata, “Sebaik-baik umat sesudah nabinya adalah Abu Bakar kemudian Umar, kalau engkau kehendaki akan menyebutkan yang ketiga, yaitu yang ketiga adalah Utsman.”
Dari Abdullah bin Salamah, ia berkata “Aku mendengar Ali berkata sebaik-baik manusia sesudah Nabinya adalah Abu Bakar, sebaik-baik manusia sesudah Umar , [HR. Ibnu Abi Asim].
Dalam Majmu Fatawa Juz 3 disebutkan :
“Dan mereka Ahlussunnah menempatkan apa-apa yang telah mutawatir dari riwayat-riwayat Amirul Mukminin Ali radhiallahu’anh dan juga dari yang lainnya bahwa sebaik-baik umat sesudah nabinya Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian mereka menyebutkan yang ketiga Utsman dan menyebutkan yang keempat Ali, sebagaimana ditunjukkan oleh atsar dan sebagaimana yang di ijma’kan oleh para sahabat radhiallahu’anhum yang mendahulukan Utsman dalam baiat.
Meskipun ada sebagian dari Ahlussunnah yang berselisih tentang Utsman dan Ali, sesudah mereka menyepakati didahulukannya Abu Bakar dan Umar. Yaitu mereka berselisih tentang siapa yang lebih utama dari Utsman dan Ali. Sebagian mengutamakan Utsman dan yang sebagiannya diam dan mereka menjadikan Ali yang keempat. Sebagian mendahulukan Ali dan sebagian lagi mereka tawaquf.
Akan tetapi urusan dari Ahlussunnah wal Jama’ah ini semuanya tetap setelah itu menetapkan Utsman. Meskipun demikian masalah Utsman dan Ali ini bukan termasuk masalah prinsip yang menyalahi kemudian disesatkan karenanya menurut jumhur ahlissunnah.
Akan tetapi orang yang disesatkan karenanya adalah masalah khilafah, bahwa khilafah yang ada adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Dan barang siapa mengingkari keempat khilafah ini maka orang tersebut sesat. Namun tentang menduahulukan antara Utsman dan ali tidak boleh disesatkan.
Bahwa mereka Ahlussunnah mengimani bahwa khalifah setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman, kemudian Ali dan barangsiapa yang mencela tentang kekhalifahan seorang dari mereka maka ia lebih sesat dari keledai peliharaannya.”
Dalam Syarh Aqidah Washitiyah disebutkan :
”Khilafah utsman adalah shahih dan ini musyawarah antara 6 orang.[8] Barang siapa yang mengatakan khalifah Utsman batil dan Ali yang berhak menjadi khalifah mereka mungkar dan mengikuti syiah”
Sumber : Catatan pribadi dari kajian Kitab Ushulussunnah karya Imam Ahmad bin Hambal yang disampaikan oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas di Masjid Imam Ahmad bin Hanbal, Bogor, tanggal 23 Jumadil Awal 1428.
[1] Abu Bakar Siddiq dan Umar bin Khattab adalah sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam. Abu Bakar Siddiq merupakan khairussahabah dan kahiru auliya, Rasulullah pernah bersabda, “Ummatku yang paling sayang kepada ummatku adalah Abu Bakar”, menjadi khalifah menggantikan Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam. Abu Bakar diberi sifat Siddah untuk memberantas orang-orang yang murtad dan tidak mau membayar zakat. Sedangkan Umar bin Khattab adalah orang yang diberi ilham oleh Allah, pada awalnya orang yang keras dan kuat namun Allah memberi Taufik sehingga ia berubah menjadi lemah lembut ketika beliau menjadi khalifah.
[2] Malaikat malu kepada Utsman ia diberi gelar Dzun Nur’ain (orang yang memiliki dua cahaya) karena ia menikahi dua putri Rasulullah (Ummu Kultsum dan Rukayyah).
[3] Ini untuk membantah Syiah. Karena orang-orang syiah menganggap yang lebih pantas menjadi khalifah adalah Ali bin Abi Thalib adapun Abu Bakar, Umar dan Utsman tidak pantas menjadi khalifah.
[4] Ijmanya para sahabat adalah ma’sum, individu mereka tidak ma’sum tapi ijma’nya adalah ma’sum. Dan mereka tidak akan berkumpul bersama kesesatan selama-lamanya, sebagaimana Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah melindungi umatku untuk berkumpul diatas kesesatan”. Maksud dari umatku disini adalah para sahabat.
[5] Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian mengikuti dari dua orang Sahabatku setelah wafatku, Abu Bakan dan Umar”. Dan hadits ini tidak bertentangan dengan hadits, “Berpeganglah kalian pada sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin”, karena keduanya termasuk dalam khalifah ar-rasyid.
[6] Mereka semua termasuk orang-orang yang dijamin masuk surga, berdasarkan sabda Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam,” Abu bakar di syurga, Umar di syurga, Utsman di syurga, Ali di syurga, Thalhah di syurga, Zubair di syurga, Abdurahman bin Auf di syurga, Saad di surga, Said bin Zaid di surga dan Abu Ubadah bin Jarrah di surga”. (HSR. Imam Ahmad dari Abdurrahman bin auf dan Said bi Zaid).
[7] Mereka lebih utama dari Ahlul Badr dari kalangan Anshar karena mereka memiliki Keutamaan hijrah dan terdahulunya dalam beriman. Dan keutamaan ahlul Badr adalah terjaminya mereka dari siksa neraka. Rasulullah bersabda, “ Tidak akan masuk neraka seorang yang hadir pada perang badar dan hudaibiyah”.
[8] Yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab yaitu : Utsman, Ali, Zubair, Thalhah, Saad, Abdurrahman bin Auf.
Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://baiturrahmah.blogsome.com/2007/06/27/ushulussunnah-point-ke-26/trackback/
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>









