Ushulussunnah Point Ke-26
“Sebaik-baik umat sesudah Nabinya yaitu Abu Bakar Siddiq, kemudian Umar bin Khattab,[1] kemudian Utsman bin Affan[2] radhiallahu’anhum ajma’in. Kami mendahulukan tiga orang ini sebagaimana para sahabat Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam mendahulukan mereka[3]. Tidak ada seorangpun diantara mereka (para sahabat) yang berselisih dalam masalah itu[4].
Kemudian sesudah tiga orang ini adalah Ashabusy Syura’ dari para sahabat yang diminta untuk musyawarah. Lima orang sahabat yang diminta untuk musyawarah yaitu, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, semuanya pantas untuk menjadi khalifah dan semuanya adalah imam. Baca selengkapnya…
Jawaban Curhat Seorang Hululiyah
Seorang sahabat mengirimkan pesan kepadaku tentang emailmu yang berjudul “The Real Enemies Of Islam And How To Recognize Them” yang di dalam emailmu itu tercatat tulisan orang yang sangat engkau banggakan, mawlana syaikh hisyam kabbani. Sahabatku itu meminta pendapatku tentang isi dari emailmu. Padahal sudah ku katakan padanya siapa engkau sebenarnya, hanya saja dia tetap memintaku untuk memberikan pendapatku tentang emailmu ini.
Jujur saja, amat sedih diriku setelah membaca curhatmu dalam email, tak ku sangka dirimu yang ku sangka memiliki banyak ilmu ternyata banyak melemparkan tuduhan yang engkau belum tentu dapat membuktikannya. Baca selengkapnya…
Utang Hajatan!
Dalam sebuah pengajian ada seorang bapak yang bertanya, "Apa sih hukumnya orang yang berhutang hajatan?" Kami yang hadir, yang mendengar pertanyaan tersebut memang agak terkesima.
Maksud dari bapak itu adalah, kebiasaan di daerahnya bila ada tetangga atau kerabat yang mengundang untuk datang pada walimahan yang mereka adakan, mereka biasa memberikan ‘hadiah’ uang yang dimasukkan di dalam amplop. Kemudian bagian muka tercantum nama dari pengirimnya. Sehingga orang yang mengundang walimah mengetahui dari mana asal pengirim hadiah. Baca selengkapnya…
Malu ~ Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah [4/4]
Perkara-Perkara yang Dapat Meningkatkan Rasa Malu
Muraqabatullaah (merasa terus diawasi Allah),
Kapan saja seorang hamba itu merasa Allah sedang melihat kepadanya dan berada dekat dengannya, ia akan mendapatkan ilmu ini (muraqabatullaah) karena rasa malunya kepada Allah.
Mensyukuri nikmat Allah,
Sifat malu akan muncul dengan memikirkan nikmat Allah yang tidak terbatas, pada hakikatnya orang yang berakal akan merasa malu untuk menggunakan nikmat Allah untuk berbuat maksiat kepadanya. Baca selengkapnya…
Malu ~ Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah [3/4]
Jenis-Jenis Malu
Terdapat banyak jenis-jenis malu, diantaranya :
Malu kepada Allah,
Ketahuilah sesungguhnya celaan Allah itu diatas seluruh celaan. Dan pujian Allah subhanahu wata’ala itu diatas segala pujian. Orang yang tercela adalah orang yang dicela oleh Allah. Orang-orang yang terpuji adalah orang-orang yang dipuji oleh Allah. Maka haruslah lebih malu kepada Allah dari pada yang lain.
Malu kepada Allah adalah jalan untuk menegakkan segala bentuk Ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Karena jika seorang hamba takut di cela Allah, tentunya ia tidak akan menolak ketaatan dan tidak pula mendekati kemaksiatan. Oleh karena itulah malu merupakan sebagian dari iman. Baca selengkapnya…










